Page 421 - SOP dan IK BPK Kaltim
P. 421
BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur Kode IK (POS)
Tanggal Terbit
POS Syok Anafilaktik Revisi Ke
BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur Halaman Hal 1 dari 8
A. Dasar Hukum
1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis
Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama;
2. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penyusunan Peraturan, Instruksi, Surat Edaran,
Keputusan, dan Pengumuman pada Badan Pemeriksa Keuangan;
3. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 9/K/I-XIII.2/8/2017 tentang Pedoman Penyusunan
dan Revisi Perangkat Lunak pada BPK; dan
4. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 6/K/I-XIII.2/8/2011 tanggal 19 Agustus 2011 tentang
Pedoman Penyusunan Prosedur Operasional Standar Badan Pemeriksa Keuangan.
B. Tujuan
Prosedur Operasional Standar (POS) Syok Anafilaktik di lingkungan Kantor BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur ini
disusun dengan tujuan sebagai berikut:
1. Sebagai acuan dalam proses penanganan syok anafilaktik di poli klinik lingkungan Kantor BPK Perwakilan Provinsi
Kalimantan Timur; dan
2. Agar memberikan pertolongan yang cepat dan tepat apabila terdapat kasus syok anafilaktik.
C. Ruang Lingkup
POS Syok Anafilaktik di poli klinik lingkungan Kantor BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur ini merupakan pedoman
pelaksanaan penanganan dan pertolongan jika terdapat kasus syok anafilaktik.
D. Definisi
1. Anafilaktik : Reaksi hipersensitifitas generalisata atau sistemik yang beronset cepat, serius, dan
mengancam.
2. Hipersensifitas : Reaksi berlebihan system imun terhadap suatu yang biasanya tidak menimbulkan respon
imun
3. Generalisata : Menyeluruh
4. Syok : Tidak stabilnya pasokan oksigen dalam darah
5. Anamnesis : Tanya jawab sesuai riwayat antara dokter dan pasien
6. Trendelendurg : Berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi dari pada kepala
7. Intravaskuler : Didalam pembuluh darah
8. Venous return : Aliran darah yang balik ke jantung
9. Trakeostomi : Pembedahan pada organ trakea
10. Krikotireoidektomi : Pemasangan selang ke dalam tiroid
11. ntramuscular : Melalui jalur otot
I
12. Bronkospasme : Kekakuan yang terjadi pada otot organ bronkus
13. Drip Infus : Tetesan cairan infus
14. Antihistamin : Obat anti alergi
E. Uraian Prosedur
Berdasarkan dengan ruang lingkup, berikut uraian prosedur dan bagan alur proses penanganan dan pertolongan jika
terdapat kasus syok anafilaktik.
No Uraian Prosedur Jangka Waktu
1. Pasien datang ke Klinik dan lapor kepada perawat untuk pencatatan identitas dan ±30 detik
penginputan data ke SISDM medis. Perawat melakukan pencatatan identitas dan
penginputan data ke SISDM Medis
2. Perawat menginformasikan kepada dokter dan mengantar pasien bertemu dokter ±30 detik
3. Dokter bertemu pasien dan meminta pasien untuk berbaring di tempat pemeriksaan ±30 detik
sembari melakukan Anamnesis singkat mengenai Riwayat kejadian sebelum terjadinya
anafilaktik, Riwayat penyakit, Riwayat pengobatan, Riwayat konsumsi obat terakhir, dan
Riwayat apakah mempunyai alergi obat
4. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dimulai dari pemeriksaan tekanan darah, Nadi, ±30 detik
SpO2 dan suhu yang dilakukan secara simultan. Lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan
fisik head to toe.
5. Dokter melakukan tatalaksana dengan posisi Trendelenburg atau berbaring dengan ±30 detik
kedua tungkai diangkat (diganjal dengan kursi) akan membantu menaikkan venous
return sehingga tekanan darah ikut meningkat.
6. Dokter memberikan oksigen 3-5 liter/menit kepada Pasien jika terjadi keadaan yang ±60 detik
sangat ekstrim (Rujuk ke RS jika tindakan trakeostomi atau krikotiroidektomi perlu
dipertimbangkan)
7. Dokter memasang infus kepada Pasien untuk mengisi volume intravaskuler secepatnya. ±30 detik
Pemberian cairan infus sebaiknya dipertahankan sampai tekanan darah kembali optimal
dan stabil. Dalam hal cairan plasma expander (Dextran) tidak tersedia, maka cairan
pengganti dapat berupa Ringer Laktat atau NaCL fisiologis.
8. Dokter memberikan Adrenalin secara Intramuscular (IM) ampul dengan dosis 0,3 – 0,5 ±30 detik @ 10
ml dari larutan 1:1000 yang dapat diulangi 5-10 menit. Jika respon pemberian secara
intramuskuler kurang efektif, dapat diberi secara intravenous setelah 0,1 – 0,2 ml
Adrenalin dilarutkan dalam spuit 10 ml dengan NaCl fisiologis, diberikan perlahan-lahan.
9. Dokter dapat memberikan Aminofilin ampul dengan sangat hati-hati, apabila ±60 detik @ 10
bronkospasme Pasien belum hilang dengan pemberian adrenalin. Aminofilin ampul
1
417

